HAYALAN JANGAN SETINGGI LANGIT

Dr. Gus ABM

Lembaga Kajian Hukum dan Demokrasi (LeM-Demokrasi)

Seorang pemuda yang baru saja menyelesaikan pendidikannya mencari pekerjaan dengan mengandalkan ijazahnya, dalam hatinya dia berhayal mau mencari pekerjaan yang bisa menghasilkan pendapatan yang besar, yaitu bekerja di perusahaan besar. Cara melamar pekerjaan pun menggunakan berbagai macam aplikasi dan media yang bisa memudahkan perusahaan untuk membaca profilnya, media yang digunakan memang sering digunakan oleh berbagai perusahaan untuk mencari pegawai atau karyawan sesuai kebutuhan perusahaan. Tidak lama iya menunggu, ada perusahan yang menghubunginnya untuk mengikuti presentasi penerimaan pegawai baru. Dengan mengikuti presentasi, dapat dipastikan dia bisa mendapatkan pekerjaan. Tetapi si pemuda berpikir, “untuk apa merepotkan diri mengikuti presentasi dari perusahaan kecil tentu gajinya juga pasti kecil” Apalah artinya perusahaan kecil dibanding perusahaan besar yang saya incar? Sehingga si pemuda melewatkan tawaran itu.

Tidak lama berselang, datang lagi tawaran dari perusahaan yang menawarkan sebagai kepala gudang, tetapi ia berpikir, “ Ah, hanya kepala gudang, gajinya tidak seberapa pasti tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup di saat seperti ini, sia-sia saja gelar sarjana saya. Agak lama  pemuda itu menunggu. Kemudian datang lagi tawaran untuk menjadi marketing di sebuah perusahaan, setelah si pemuda mempelajari tawaran itu si pemuda berkesimpulan bahwa kalau hanya menjadi marketing untuk apa dia kuliah dan menjadi sarjana, ia pun membeiarkan tawaran berlalu. Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada tawaran dari perusahaan yang sesuai dengan kenginan sipemuda, sehingga ia mulai kehabisan waktu dan umurnya pun sudah tidak mudah lagi dan akhirnya sipemuda tidak mendapatkan pekerjaan dan menjadi pengangguran sejati.

Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicara pun sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang-orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa. Wassalam.

Leave a Reply